Propinsi/Province
SELAMAT DATANG
di www.indonesiapariwisata.com
Search :
Connect

Wayang Kulit
Kalau mendengar nama kota Padang, benak kita mungkin segera membayangkan kekhasan masakan Padang, atau atap khas melengkung dengan ujung runcing seperti tanduk kerbau yang disebut gonjong-gonjong, legenda Malin Kundang, kisah Siti Nurbaya, dan lagu ”Teluk Bayur” yang dibawakan Ernie Johan pada tahun 1960-an.
Mau ajak temen kamu jalan-jalan ke Kenangan Kota Padang ?
Kirim dulu artikel ini ke 'Facebook wall' temen kamu.
* Pilih salah satu temen kamu untuk menulis di wall temen kamu. Jika kamu tidak memilih, pesan akan ditulis di wall kamu.

Kenangan Kota Padang


page : 1

 

perempuan.com
perempuan.com

Kalau mendengar nama kota Padang, benak kita mungkin segera membayangkan kekhasan masakan Padang, atau atap khas melengkung dengan ujung runcing seperti tanduk kerbau yang disebut gonjong-gonjong, legenda Malin Kundang, kisah Siti Nurbaya, dan lagu ”Teluk Bayur” yang dibawakan Ernie Johan pada tahun 1960-an. Secara geografis, kota itu sangat menarik karena diapit Selat Mentawai dan Pegunungan Seribu.  Walhasil, kita dapat menikmati keharmonisan antara kekayaan budaya dan keindahan pesona atau dalam urang awak disebut rancak bana dan bakal membuat kita selalu takana jo koto Padang (terkenang pada kota Padang).

Kota Padang pada awalnya adalah pemukiman nelayan di beberapa muara sungai antara lain Batang Arau, Batang Kuranji, Batang Muaro Panjalin, dan Batang Anai. Sejak penguasa kerajaan Pagaruyuang dalam Perjanjian Painan tahun 1667 mengizinkan VOC memonopoli perdagangan dan mendirikan benteng di tepi Batang Arau, mulailah sejarah perkembangan kota Padang. Pertumbuhan kota dimulai di sekitar benteng VOC yang lalu dibongkar oleh penguasa Inggris pada 1781 dan pasar pribumi (Pasar Gadang).

Saat ini, wilayah di sekitar bekas benteng VOC menjadi pusat kota lama atau koto tuo yang penuh bangunan berarsitektur kolonial. Di situ terdapat pula pecinan yang disebut Kampung China penuh bangunan berarsitektur khas Tiongkok berupa deretan rumah toko tradisional dan kelenteng, misalnya Kelenteng Sin Hin Kiong.

Panorama kota lama itu bisa kita nikmati dari atas jembatan Siti Nurbaya di Batang Arau. Jembatan itu jadi landmark atau tetenger kota Padang. Dahulu, di sepanjang sisi utara sungai itu terdapat rel kereta api. Setelah ada proyek revitalisasi, lahan bekas rel itu berubah menjadi taman dan lahan terbuka di tepi sungai.

Di Batang Arau terdapat dermaga wisata bahari. Dari dermaga itu banyak turis mancanegara menyewa perahu boat menuju lokawisata Sekuai Island Resort yang bisa ditempuh sekitar 25 hingga 40 menit dari dermaga. Pulau seluas 40 hektare itu dikelilingi pasir putih. Begitu eksotis dan menawan.

Kemenawanan khas lainnya di Padang adalah atap gonjong-gonjong. Atap seperti itu bisa kita jumpai pada hampir semua bangunan, khususnya perkantoran. Bangunan perkantoran yang kali pertama menggunakan atap gonjong gonjong adalah kantor Gubernur Sumbar.

Bangunannya merupakan tinggalan Belanda, tapi pada tahun 1959 Gubernur Sumbar saat itu Kaharroedin Dt Rangkayo Basa memerintahkan perubahan atap kantor dengan atap khas Minangkabau. Pada 1970-an Gubernur Azwar Anas mengimbau agar bangunan perkantoran di kota Padang dibangun dengan atap itu juga. Bangunan ”bagonjong” yang terkategori gaya arsitektur neo-vernakular terbaru adalah Bandara Internasional Minangkabau.

Tempat lain yang sungguh sayang bila kita lewatkan ketika di Padang adalah Teluk Bayur. Pada bagian selatan teluk terindah di nusantara tersebut banyak dijumpai warga yang memancing ikan, menikmati matahari tenggelam. Meskipun masih berada di kawasan kota, suasana di situ terasa sangat alamiah karena jalan raya di tepi garis pantainya dibatasi laut dan hutan alam dengan berbagai satwa seperti monyet yang tampak sangat akrab dengan manusia.

Apabila kita menikmati jagung atau pisang bakar yang banyak dijual di tepi teluk, kita mesti waspada karena banyak monyet yang mendekat. Secara naluriah monyet-monyet tersebut mengharap kedermawanan kita untuk memberikan sebagian jagung atau pisang bakar yang kita nikmati. Yang pasti, mereka memberikan atraksi bak pemain akrobat. Lihat saja bagaimana mereka merangkak dengan santai melalui kabel telepon yang membentang di antara jajaran tiang di tepi jalan.

Pesona lainnya bisa kita peroleh dari warna air di tepi teluk bertebing itu yang terlihat biru jernih. Walhasil, dasar lautnya terlihat jelas penuh ikan yang berenangan kian kemari di antara tanaman laut dan karang. Dan, nun di kejauhan tampak kapal-kapal niaga yang sedang berlabuh. Barangkali pesona keindahan itulah yang telah mengilhami Ernie Johan untuk melantunkan ”Teluk bayur” yang sangat terkenal beberapa dasawarsa lalu.

Bangunan-bangunan yang berjajaran di tepi laut pun bisa jadi pelengkap keindahan. Karena letak geografis kota Padang yang memanjang di tepi laut, maka banyak bangunan berlokasi di pinggir pantai. Salah satu hotel terkemuka di Padang. Lahan bangunannya mencakup sebagian area pantai.

Pada kunjungan kali terakhir di Padang, saya memilih bermalam di salah satu hotel dengan panorama langsung ke laut. Untuk memuaskan keinginan tamu yang ingin berenang di laut tetapi takut dengan kemungkinan datangnya ombak besar, di antara bangunan hotel dan pasir pantai dibangun kolam renang air tawar. Jadi, sembari berenang di kolam renang air tawar, tamu hotel masih tetap dapat melihat matahari terbenam di laut. Eksotis![perempuan.com]

Print   Share on Facebook
page : 1
Pariwisata Indonesia