Kirim dulu artikel ini ke 'Facebook wall' temen kamu.
Wisata Astronomi di Observatorium Bosscha
Sebagai tempat pengamatan (observasi) benda langit, Observatorium Boscha berdiri dan berkembang seiring dengan perkembangan astronomi dan masyarakat di Indonesia.
Konon, sejak dahulu masyarakat Indonesia sudah mengamati langit sebagai bagian dari kebudayaan, seperti untuk kepentingan pertanian, petunjuk arah, perhitungan waktu dan ritual keagamaan.
Jauh sebelum Observatorium Bosscha berdiri, kegiatan pengamatan dan penelitian langit selatan telah dilakukan. Tercatat John Mauritz Mohr, pendeta Belanda kelahiran Jerman, tiga abad silam telah membangun observatorium pribadi di Batavia (Jakarta). Hasil pengamatan Mohr, diperoleh gambaran adanya transit Venus tahun 1761 dan 1769 yang kemudian dipublikasikan dalam Philosophical Transactions. Selain Mohr, Astronom Perancis De Bougainvile, tahun 1769 juga melakukan pengamatan transit Venus.
Tahun 1920, merupakan tahun istimewa bagi Observatorium Boscha, karena idea pendirian stasion pengamatan bintang mulai bergulir dengan berdirinya Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang dipelopori oleh Karel Alber Rudolf Bosscha.
Tanggal 12 September 1920, diadakan rapat pertama NISV di Hotel Homman Bandung yang memutuskan untuk membangun sebuah observatorium untuk memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Sang Pelopor NISV, Mr.Bosscha berjanji memberikan bantuan berupa pembelian teropong yang modern.
Mr. Bosscha dan Mr.Dr.J.Voute (astronom yang nantinya menjadi direktur observatorium pertama) pada tahun 1921 berangkat ke Askania Werk Jerman untuk memesan Meredian Circle dan Carl Zeiss Jena memesan, Double Refraktor.
Usai memesan meredian circle dan carl zeiss Jena, kemudian keduanya mengadakan penelitian menentukan lokasi yang tepat untuk membangun tempat observatorium. Hasil penelitian menetapkan, salah satu anak Pengunungan Tangkuban Perahu, yaitu pada 15 Km ke Utara dari Pusat Kota Bandung dianggap cocok untuk dibangun observatorium mengingat udaranya yang sejuk dan jauh dari keramaian. Kemudian pemandangan ke arah timur dan barat yang lepas dan memiliki ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut. Tanah yang dipilih itu kebutulan pemberian atau hibah dari kakak beradik yang bernama Ursone seluas 6 hektar.
Pada tahun 1922 dimulailah pembangunan observatorium hingga tanggal 1 Januari 1923 sebagian bangunannya sudah rampung dan langsung diresmikan oleh Gubernur Jenderal Mr.D.Fock yang kemudian mengangkat Dr.Voute diangkat sebagai direktur observatorium pertama.
Setelah sekian lama menanti, akhirnya pada tanggal 10 Januari 1928 sang teleskop double refraktor tiba dan menurut Prof.Dr.Bambang Hidayat, perjalanan sang teleskop itu mengerahkan berbagai personiel dan peralatan.
Teleskop refraktor double zeis diameter 60 cm, panjang 11 meter, pada tanggal 10 Januari 1928 diturunkan dari kapal ¿kertosono¿ milik Rotterdamsche lioyd. Dua puluh tujuh peti kemas besar isinya 30 ton diangkut oleh Perusahaan Kereta Api Negara (SS) secara gratis ke Bandung. Batlyon Genie A.D mengangkutnya secara gratis pula ke dari Bandung ke Lembang . Biro Bangunan Perjan K.A (S.S) ditugasi membuat bangunan beton berkubah dengan instrumen yang canggih. Sekaligus memasangkan teleskopnya.
Mengenai teleskop itu sendiri, dijelaskan Prof.Dr.Bambang Hidayat, yaitu terdiri dari dua buah refraktor ysng masing mempunyai lensa obyektif 60 cm. Satu teleskop disebut fotografis diperuntukan menyelidiki paralaks atas saran Prof.Kapteijn dari Groningen. Teleskop lain dinamai teleskop visual. Kedua teleskop itu dikungkung dalam satu tabung yang berdiameter 1,66 meter. Pandangannya dapat menyapu hampir semua langit utara dan selatan. Pada saat didirikan, teleskop itu menduduki nomor tiga dari jenisnya (Melbourne, 122 cm dan La Plata 70 cm).
Beberapa bulan setelah instalasi teleskop double refraktor Zeiss selesai, Mr. Bosscha meninggal, tepatnya tanggal 26 November 1928. Atas jasanya, maka observatorium di Lembang itu dinamai Observatorium Bosscha.
Observatorium Bosscha di Masa Perang Dunia Kedua
Perang Dunia berkecamuk, observatorium Bosscha banyak mengalami kerusakan. Ditambah lagi perpanjangan perang kemerdekaan. Direktur observatorium Bosscha yang diangkat Tahun 1939 A.de sitter (putra direktur Observatorium Leiden)ditawan tentara Jepang dan meninggal dalam kamp tawanan.
Kemudian, kepedulian astronom Leiden-Belanda Prof.Dr.Jan Hendrik Oort (28 April 1900-5 November 1992) terhadap stasiun pengamatan langit selatan, yaitu dengan mengirim seorang staff senior CH Hins untuk memperbaiki kondisi teleskop di Observatorium Bosscha. Pada masa berakhirnya Hins, datang astronom Belanda lainnya, GB van Albada yang menjadi direktur Observatorium Bosscha hingga tahun 1960. Berkat usaha keras berbagai pihak terutama Hins dan van albada, Observatorium Bosscha dapat beroperasi kembali secara normal sebagai tempat pengamatan benda langit.
Tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan Observatorium Bosscha ke Pemerintah RI. Kemudian Observatorium Bosscha bergabung dengan Fakultas Ilmu Murni Universitas Indonesia. Setelah Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung memisahkan diri dengan membentuk Institut Teknologi Bandung (ITB) di Tahun 1959, maka Observatorium Bosscha menjadi bagian dari ITB.
Masa Pemerintahan Indonesia
Sejak itu, observatorium selain berfungsi sebagai lembaga penelitian juga menjadi sarana pendidikan formal astronomi Indonesia. Sarana pengamatan dan penelitian astronomi itu ikut mengantar dalam proses pembentukan sosok astronomi senior Indonesia dan generasi muda astronomi Indonesia. Kemudian berdasarkan PP 155 Tahun 2000, Bab X Satuan Akademik, pasal 44 ayat 6 menempatkan Observatorium Bosscha sebagai perangkat penunjang akademik di ITB. Penempatan ini sejalan dengan visi observatorium bosscha yang secara aktif memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan astronomi dan astro fisika secara teoritik maupun observasional. Upaya kedepan adalah meningkatkan peran dan fungsi sebagai Pusat Penelitian dan Pengembangan Astronomi dan Sain Keantariksaan di Indonesia.
Penelitian astronomi dan astrofisika melingkupi struktur alam semesta, struktur galaksi, fisika bintang, dan bintang ganda, tata surya dan sains antariksa ; secara teoritis maupun atas dasar pengamatan.
Observatorium Bosscha menjadi sarana penunjang pendidikan bagi mahasiswa Departemen Astronomi dan Departemen lainnya di ITB untuk memperkenalkan suatu model profesi astronomi dan institusi astronomi. Selain itu juga menjadi sarana pengajaran dan ilmu ang bertaut bagi mahasiswa dan beberapa lembaga pendidikan lainnya di luar ITB.
Nama-nama Direktur Observatorium Bosscha
1. 1923 sd. 1940 : Dr.J.Voute
2. 1940 sd. 1942 : Dr.A.De Sitter
3. 1942 sd. 1946 : Prof.Dr.Masashi Miyaji
4. 1946 sd. 1949 : Prof.Dr.J.Hind
5. 1949 sd. 1958 : Prof.Dr.G.b.Van Albada
6. 1958 sd. 1959 : Prof.Dr.O.P.Hok dan S.Nitisastro (dir.pelaksana)
7. 1959 sd. 1968 : Prof.Dr.The pik Sin
8. 1968 sd. 1999 : Prof.Dr.Bambang Hidayat
9. 1999 sd. sekarang : Prof. Moedji Raharto
Data Observatorium Bosscha
Berlokasi pada 107 o 37 BT dan 6 o 49,30 LS. Memiliki ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut dan 630 meter di atas dataran tinggi Bandung. Terhadap Kota Bandung ke arah utara sejauh 15 Km. Dalam keadaan normal kondisi cuaca temperatur minimum malam hari 16 derajat (Bulan Juni dan Juli) dan maksimum siang hari 23 derajat, kelembabam rata-rata 80%-90%. Malam cerah untuk pengamatan astronomi 150 hari pertahun sedangkan untuk pengamatan fotometri lebih lemah dari itu.
Menuju Observatorium Boscha sungguh mudah. Perjalanan melalui kendaraan roda empat dari arah Bandung memakan waktu sekira 30 menit. Kalaulah ada kemacetan yang biasanya terjadi pada hari Sabtu dan Minggu, paling memakan waktu sekira 40 menit. Mengenai tempat parkir, khususnya untuk kendaraan pribadi, bisa berada di lokasi. Namun untuk kendaraan bus umum, diparkir di Jl. Raya Lembang. Itupun hanya untuk tiga bus. Jarak dari Jl.Raya Lembang ke lokasi sekira dua kilometer dan bagi yang tidak membawa kendaraan bisa menggunakan jasa ¿Ojeg¿ dengan tarif sekira Rp 3000 sd Rp 5000,- Dengan berjalan kaki, sambil berolah raga tampaknya menjadi pilihan pengunjung, ketimbang menggunakan kendaraan ojeg.
Kegiatan-kegiatan Observatorium Bosscha
A. Pengabdian masyarakat
Merupakan sumbangsih ilmu pengetahuan kepada masyarakat, diantaranya :
- Menerima kunjungan masyarakat, baik siang maupun malam. Kegiatan ini didukung oleh LPM ITB sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ;
- Pertemuan klub penggemar astronomi dan astrophilatelis yang disponsori oleh PT POS Indonesia ;
- Mengembangkan dan memberdayakan tim perpustakaan menjadi unit layanan informasi yang up to date. Kelompok ini juga mengkompilasi informasi karya-karya staff serta membantu penulisan buku astronomi.
- Kegiata pelatihan Hisab-Ru¿yat, diikuti 20 orang peserta dari negara MABIMS dengan sponsor Depag RI selama satu bulan, Juli-Agustus 2000 diselenggarakan di Observatorium Bosscha ;
- Pelatihan dosen IKIP penerima hibah teleskop dari Jepang pada bulan Juli 2001.
B. Pertemuan Kegiatan Astronomi
Beberapa pertemuan astronomi yang diorganisir Observatorium Bosscha bersama lembaga penelitian di Indonesia :
- IAU Colloquium No.80 Double Stars, Physical Properties and Generic relations tahun 1983. Editors Proceedings B.Hidayat, Z.Kopal dan J.Rahe ;
- IAU Symposium on Stellar Photometry and Spectral Classifications 1963 ;
- IAU Symposium 143 on Wolf-Rayet stars and Interrelations with other massive stars in Galaxies 18-22 Juni 1999.
Peningkatan jumlah penduduk di Kota Lembang dan Bandung karena desakan kebutuhan tempat tinggal berimplikasi pada merosotnya kualitas langit di sekitar Lembang. Berbagai proyek pembangunan memunculkan kedatangan penduduk dari luar Kota Lembang, semakin menghimpit keberadaan Observatorium.
Tentang hal ini, berbagai LSM dan media massa telah menyuarakan pentingnya menjaga daerah sekitar observatorium dari perambahan permukiman. Pemerintah Provinsi dan Kab. Bandung telah cukup merespon. Namun perlu pelaksanaan di lapangan terutama perlindungan melalui Perda RT/RW. [jabar.go.id]
Print
Share on Facebook




