Kirim dulu artikel ini ke 'Facebook wall' temen kamu.
Solo : Kota Para Raja
Empat abad keberadaan Belanda di Nusantara masih bisa ditemukan di berbagai kota Indonesia. Misalnya Solo atau Surakarta, kota para raja Jawa ini bahkan memiliki lembaga swadaya masyarakat yang khusus menyorot masalah pelestarian warisan tempo doeloe ini, bagaimana tetap mempertahankannya dan mencegah dihancurkannya aset budaya ini oleh para developer. Bapak Dharmono adalah seorang tokoh Solo Herritage dan mengajak kita menelusuri berbagai tempat di kota Solo yang masih sarat dengan warisan budaya tempo doeloe.
Penjarahan
Salah satu masalah yang dihadapi para pencinta warisan budaya tempo doeloe ini adalah penjarahan oleh massa yang terjadi di Solo secara berkala. Tapi anehnya rakyat yang cepat naik pitam ini merasa hormat terhadap gedung-gedung tua yang angker, yang ada hantunya atau yang diberi berbagai patung para figur wayang Jawa. Gedung lawa misalnya adalah rumah seorang tuan perkebunan yang masih tetap dipertahankan arsitekturnya berkat mistifikasi angker ini.
Campur tangan Belanda
Solo memang didirikan oleh para Sunan Surakarta namun Belanda ikut campur tangan. Persyaratan tata ruang kota Belanda adalah harus ada benteng tentara Belanda, kantor residen Belanda harus dibangun di depan kraton dan jalan poros patroli Belanda harus mendominasi jalan-jalan lain. Untuk itu sungai Batangan ditutup dan dijadikan Purwosariweg demi pertahanan. Padahal jalan ini membelah jalan sakral kraton menuju Tugu depan balai kota.
Modernisasi Solo
Namun di lain pihak modernisasi kota Solo sebagai kota industri dan dagang adalah dampak inisiatif pemerintah kolonial Belanda. Gedung Javaansche Bank, bank sentral Hindia Belanda dan pabrik es Petodjo adalah simbol kemajuan ini demikian, Pak Dharmono. Pabrik es ini bukan untuk memproduksi es konsumsi namun untuk memenuhi kebutuhan sarana pendingin industri di Solo.
Balai Kota Solo
Dalam proses modernisasi ini juga berperan para penguasa kraton Mangkunegara. Sebagai kraton kedua mereka lebih aktif dalam dunia perkebunan dan industri. Drainase dan pengairan bersih merupakan salah satu usaha modernisasi Mangkunegara. Kebersihan merupakan tujuan utama. Alangkah kecewanya Mangkunegara VI ketika melihat rakyatnya tetap buang air besar di pinggir jalan-jalan air, ia menggunakan katepel untuk mengusir mereka, "katepel pantat", demikian selonoh Pak Dharmono.
Kompensasi Dana
Raja Surakarta yang kehilangan kekuasaan di kotanya sendiri mendapat kompensasi dana dari pemerintah kolonial Belanda. Untuk itu dibangun taman Sriwedari yang dirancang sebagai lambang kekuasaan mistis para raja Solo. Ada danau kecil sebagai lambang segara atau laut, dan ada bukit-bukitan kecil melambangkan
gunung, air dan tanah, dua simbol kekuasaan mistis raja Surakarta. Kini kedua lambang ini sudah rusak tidak terawat. Hilanglah warisan hubungan kraton Sunan Solo dengan pemerintah kolonial Belanda.
Kampung Belanda
Kampung Belanda sendiri adalah Lodji Wetan, yang sempit dengan jembatan gantung yang diangkat pada malam hari sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk. Kampung Belanda ini dibangun dekat benteng Belanda, dijaga ketat,bukan terhadap kekuatan militer kraton, namun terhadap kerusuhan para petani
yang mengladag-solourut Pak Dharmono sering memberontak. Tercatat sekitar 400 sampai 500 pemberontakan petani pada jaman Belanda. Mereka ini dipimpin oleh semacam jago yang mencuri dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin. Robin Hood ala Solo. [kbmwbu.jawatengah.go.id]
Print
Share on Facebook


